Fenomena geng motor yang meresahkan ini ternyata tidak kunjung usai. Mungkin akan terbetik dalam pikiran kita bahwa kalau dipusat pemerintahan aja hal-hal yang meresahkan tidak segera dibereskan, bagaimana dengan yang didaerah?? Hemm...kiranya peristiwa ini mengingatkan kita akan buruknya kinerja aparat negara sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dari keresahan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Indonesia Police Watch (IPW) menilai lambannya polisi dalam menangani geng motor di Jakarta, disebabkan sejumlah faktor. "Banyak anak pejabat yang tergabung di dalamnya. Namun, polisi enggan menertibkan mereka secara tuntas," kata Neta
Menurut Neta, rangkaian aksi geng motor 'pita kuning' itu, bermula dari adanya balapan liar di sejumlah lokasi di Jakarta. Namun ini dibiarkan. "Sehingga mereka semakin brutal dan terjadilah aksi anarkis oleh geng motor yang berujung tewasnya seorang anggota TNI (AL),” ungkap Ketua Presidium IPW Neta S Pane.
Neta mengatakan, seharusnya polisi bertindak sejak mengetahui ada anggota TNI yang tewas. "Ada dugaan geng motor tersebut sakit hati dan ingin membalas dendam atas kematian rekannya. Ini terjadi karena lambatnya polisi dalam menangani kasus tersebut, ini yang seharusnya menjadi pelajaran buat Polda Metro Jaya. Polisi juga harus berkoordinasi dengan TNI untuk mencegah aksi balas dendam," pungkas Neta
Aksi geng motor 'pita kuning' yang terjadi di Jakarta, Jumat dini hari menunjukkan adanya kesan polisi enggan memberantas geng motor. Pasalnya, aksi kekerasan tersebut merupakan buntut dari rangkaian peristiwa aksi geng motor sebelumnya. Namun polisi lamban menindak dan seolah-olah membiarkan geng motor tumbuh di Jakarta.
Deretan Kekerasan
Sebelumnya, salah satu kelompok motor mengamuk dan mengeroyok seorang pengendara motor di Jalan Danau Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (7/4) dinihari. Aksi pengeroyokan menewaskan Soleh, 17, dan melukai tiga rekannya, yakni: Zaenal (19), Reza (16) dan Ardian (19). Mereka dikeroyok usai menonton balapan liar.
Kekerasan anggota geng motor terhadap kelompok lainnya kembali terjadi di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (8 April 2012). Para pelaku mengeroyok lima orang dan membakar sepeda motor Yamaha Cripton bernomor polisi B-3186-PX. Kelima korban yang mengalami luka tusuk senjata tajam, yakni Muhammad Syarif, Mul, Fajri, Caesar dan Reza Palupi.
Terkait tewasnya Anggota TNI-AL, Klasi Arifin, yang dikeroyok anggota geng motor di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, pihak kepolisian tengah berkoordinasi dengan TNI-AL untuk mengusut kasus tersebut.
"Kami sudah koordinasi dengan TNI-AL agar sama-sama melakukan penyidikan dan penelusuran. Sekarang sedang berjalan," Kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Rabu (11/4).
Polisi hingga saat ini masih ragu untuk menindak tegas pelaku kekerasan yang dilakukan geng motor ‘pita kuning’ yang melakukan tindak kekerasan di sejumlah wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
Titik Rawan
Kepala Bagian Pembinaan dan Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Budiyanto menyebut untuk di Jakarta pusat yang sering digunakan yakni di kawasan Jalan Benyamin Sueb- Kemayoran, Jalan Pramuka, Jalan Asia Afrika, dan Jalan KH Mas Mansyur.
Sementara, di Jakarta Utara, lokasi yang rawan adalah Kawasan Danau Sunter. Sedangkan di Jakarta Barat, berlokasi di Jalan Raya Panjang dan Cengkareng. "Jakarta Timur ada di Kawasan Taman Mini serta Duren Sawit. Jakarta Selatan di Jalan TB Simatupang. Ini kawasan paling rawan yang kami dapatkan datanya," ujar Budiyanto.
Setiap akhir pekan malam, lanjut dia, kepolisian meningkatkan patroli di lokasi tersebut. Anggota yang sedang piket seperti patroli pengawalan dan penegakan hukum juga diikutsertakan dalam pengamanan yakni sebanyak 20 personel.
"Jika memang terbilang rawan, maka jumlahnya ditambah. Tetapi apabila memang masih terkendali maka personelnya juga tidak terlalu banyak. Polisi akan memberlakukan cara persuasif serta edukatif. Bila dua cara ini tidak digubris maka akan ditilang,” ujarnya.
sumber
Tampilkan postingan dengan label antisipasi generasi tak shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antisipasi generasi tak shalat. Tampilkan semua postingan
Antrian Kematian
Mari bersama persiapkan yang terbaik buat diri kita masing-masing, karena siapaun yang bernyawa sebenarnya berada dalam antrian kematian.
Belakangan, berita kecelakaan di jalan raya kerap menghiasi tayangan di televisi, juga menjadi sorotan berbagai media massa lainnya. Kecelakaan bus di jalur puncak Cisarua Bogor, tabrakan bus di Jawa Timur, juga di Pemalang hingga kecelakaan tunggal yang menewaskan sembilan orang pejalan kaki yang terjadi tak jauh dari halte Tugu Tani, Jakarta. Selain berita-berita tersebut, sebenarnya mungkin masih banyak kecelakaan lain yang tak terekspose media.
Kejadian ini semestinya menjadi pengingat kita semua bahwa terlepas dari soal takdir, kehati-hatian dalam berkendara di jalan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Selain berdoa sebelum bepergian, patuh pada peraturan lalu lintas adalah kewajiban. Juga yang tak boleh diabaikan adalah saling menghormati sesama pengguna jalan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk hati-hati, jangan hanya bisa marah dan membentak “memangnya ini jalan nenek moyangmu!” tapi dirinya sendiri juga tidak berhati-hati, terlupa bahwa jalan yang dilewati juga bukan milik kakek moyangnya. Jika kita menuntut orang lain hati-hati dan disiplin berlalu lintas, maka kewajiban yang sama juga mengikat kita.
Dibalik musibah selalu ada hikmah. Begitupun kecelakaan di jalan raya yang belakangan ini sering terjadi juga memberi kita sebuah pelajaran, menggugah kesadaran bahwa maut bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara yang tidak terduga, termasuk kecelakaan di jalan raya.
Sebelum tragedi halte Tugu Tani itu terjadi, siapa yang menyangka jika kedatangan satu keluarga dari desa ke Jakarta dalam rangka liburan justru seperti mengantarkan nyawa. Dan mereka yang usai berolah raga, tak ada yang menduga kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban, tertabrak mobil yang nyelonong ke trotoar.
Juga mereka, para penumpang bus maut baik yang di Jawa Timur, Pemalang, Bogor maupun daerah-daerah lainnya tak mengira kepergian mereka dengan berbagai kepentingan akan berakhir di pemakaman. Inilah ketetapan, kepastian yang Allah rahasiakan. Dan disadari atau tidak, kita pun sebenarnya berada dalam antrian.
Entah di urutan keberapa, entah setelah siapa, yang pasti suatu saat nanti akan tiba giliran kita juga.
Jangan karena masih muda, sehat, kaya dan sedang berjaya lalu merasa antrian kita masih jauh. Masih banyak mereka yang sudah tua, atau masih muda tapi sakit-sakitan, antri di depan kita. Jangan pernah beranggapan demikian. Banyak fakta menunjukan, seorang yang sudah lanjut usia, terisak pelan menghadiri pemakaman cucunya yang masih belia. Juga mereka yang beberapa hari sebelumnya masih terbaring di rumah sakit, turut menjadi saksi pemakaman orang yang kemarin membezuknya.
Jangan katakan ini menyeramkan, karena memang kenyataan. Kita dalam antrian. Jangan pula bilang takut, karena rasa takut tak akan membatalkan maut. Siap atau tidak, bila sampai waktunya, maut tetap akan datang menjemput. Usia bukan jaminan, harta, jabatan dan kesehatan bukan andalan. Kesemuanya bukan penentu urutan kita dalam antrian. Tapi selama dalam antrian, semua bisa kita gunakan untuk mengumpulkan perbekalan yang kita butuhkan di kehidupan abadi kelak.
Karena kita tidak tahu di mana sebenarnya posisi kita dalam antrian, maka perbekalan iman dan amal kebaikan harus benar-benar dipersiapkan. Jangan salah membawa bekal, jangan pula sampai tertinggal. Apa yang akan kita dapatkan kelak adalah sesuai dengan apa yang kita upayakan sekarang. Mari sama-sama memastikan bahwa selama antri tidak sekalipun kita keluar dari jalur yang ditetapkan. Insya Allah.
www.abisabila.com
Belakangan, berita kecelakaan di jalan raya kerap menghiasi tayangan di televisi, juga menjadi sorotan berbagai media massa lainnya. Kecelakaan bus di jalur puncak Cisarua Bogor, tabrakan bus di Jawa Timur, juga di Pemalang hingga kecelakaan tunggal yang menewaskan sembilan orang pejalan kaki yang terjadi tak jauh dari halte Tugu Tani, Jakarta. Selain berita-berita tersebut, sebenarnya mungkin masih banyak kecelakaan lain yang tak terekspose media.
Kejadian ini semestinya menjadi pengingat kita semua bahwa terlepas dari soal takdir, kehati-hatian dalam berkendara di jalan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Selain berdoa sebelum bepergian, patuh pada peraturan lalu lintas adalah kewajiban. Juga yang tak boleh diabaikan adalah saling menghormati sesama pengguna jalan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk hati-hati, jangan hanya bisa marah dan membentak “memangnya ini jalan nenek moyangmu!” tapi dirinya sendiri juga tidak berhati-hati, terlupa bahwa jalan yang dilewati juga bukan milik kakek moyangnya. Jika kita menuntut orang lain hati-hati dan disiplin berlalu lintas, maka kewajiban yang sama juga mengikat kita.
Dibalik musibah selalu ada hikmah. Begitupun kecelakaan di jalan raya yang belakangan ini sering terjadi juga memberi kita sebuah pelajaran, menggugah kesadaran bahwa maut bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara yang tidak terduga, termasuk kecelakaan di jalan raya.
Sebelum tragedi halte Tugu Tani itu terjadi, siapa yang menyangka jika kedatangan satu keluarga dari desa ke Jakarta dalam rangka liburan justru seperti mengantarkan nyawa. Dan mereka yang usai berolah raga, tak ada yang menduga kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban, tertabrak mobil yang nyelonong ke trotoar.
Juga mereka, para penumpang bus maut baik yang di Jawa Timur, Pemalang, Bogor maupun daerah-daerah lainnya tak mengira kepergian mereka dengan berbagai kepentingan akan berakhir di pemakaman. Inilah ketetapan, kepastian yang Allah rahasiakan. Dan disadari atau tidak, kita pun sebenarnya berada dalam antrian.
Entah di urutan keberapa, entah setelah siapa, yang pasti suatu saat nanti akan tiba giliran kita juga.
Jangan karena masih muda, sehat, kaya dan sedang berjaya lalu merasa antrian kita masih jauh. Masih banyak mereka yang sudah tua, atau masih muda tapi sakit-sakitan, antri di depan kita. Jangan pernah beranggapan demikian. Banyak fakta menunjukan, seorang yang sudah lanjut usia, terisak pelan menghadiri pemakaman cucunya yang masih belia. Juga mereka yang beberapa hari sebelumnya masih terbaring di rumah sakit, turut menjadi saksi pemakaman orang yang kemarin membezuknya.
Jangan katakan ini menyeramkan, karena memang kenyataan. Kita dalam antrian. Jangan pula bilang takut, karena rasa takut tak akan membatalkan maut. Siap atau tidak, bila sampai waktunya, maut tetap akan datang menjemput. Usia bukan jaminan, harta, jabatan dan kesehatan bukan andalan. Kesemuanya bukan penentu urutan kita dalam antrian. Tapi selama dalam antrian, semua bisa kita gunakan untuk mengumpulkan perbekalan yang kita butuhkan di kehidupan abadi kelak.
Karena kita tidak tahu di mana sebenarnya posisi kita dalam antrian, maka perbekalan iman dan amal kebaikan harus benar-benar dipersiapkan. Jangan salah membawa bekal, jangan pula sampai tertinggal. Apa yang akan kita dapatkan kelak adalah sesuai dengan apa yang kita upayakan sekarang. Mari sama-sama memastikan bahwa selama antri tidak sekalipun kita keluar dari jalur yang ditetapkan. Insya Allah.
www.abisabila.com
Antisipasi tumbuhnya generasi tak shalat

ANTISIPASI TUMBUHNYA GENERASI TAK SHALAT
Anak-anak sampai umur tujuh tahun biasanya lebih terpengaruh oleh kebiasaan dan didikan orang tuanya. Namun setelah mulai masuk sekolah, ia akan terbina oleh gurunya dan terpengaruh oleh teman-temannya di sekolah. Kalau pembinaan guru-gurunya baik, dan pengaruh teman-temannya pun baik, maka insya Allah jiwa anak terbina dengan baik. Sebaliknya, kalau pembinaan dari guru-gurunya hanya sekadarnya (seperti keadaan rata-rata sekarang) dan pengaruh teman-temannya buruk, maka si anak terbentuk (terformat) dalam pola yang kurang baik.
Di saat seperti itu, pembinaan ataupun kebiasaan kedua orang tuanya yang ditanamkan kepada si anak selama 7 tahun itu lambat laun terkikis, lama-lama bisa habis. Sedang pembinaan dari orang tua belum tentu berlanjut, atau setidak-tidaknya tak ada peningkatan. Karena orang tua merasa anaknya sudah disekolahkan, pasti telah dibina oleh guru-gurunya di sekolah. Wal hasil guru-guru belum tentu membina si anak dengan baik/ intensip. Apalagi kebanyakan pendidikan selama ini kurikulumnya hanya sekadar menyampaikan pelajaran yang sasarannya hanya membekali otak dengan ilmu, teori, dan itupun sifatnya lebih menjurus kepada materi keduniaan. Sedikit sekali yang menyangkut pembinaan rohani, akhlaq, jiwa, hati, keimanan, keikhlasan atau akhlaq secara keseluruhan. Sehingga aspek ukhrawi justru terabaikan.
Pincangnya dunia pendidikan (hanya memen-tingkan aspek duniawi dan mengabaikan aspek ukhrawi) itu sendiri sudah menjadi masalah besar lagi berat bagi setiap orang tua Muslim. Masih pula pengaruh dari teman-teman si anak di sekolah yang belum tentu baik. Ditambah lagi kesibukan-kesibukan orang tua, hingga tak instensip dalam mengontrol si anak. Belum lagi pengaruh-pengaruh yang kurang baik dari tayangan-tayangan televisi, bacaan-bacaan yang merusak moral dan aqidah. Anak yang belum dibina fitrah Islamnya dengan baik itu sudah langsung menghadapi aneka pengaruh negatif yang tidak mendukung fitrahnya alias akan membredel fitrahnya.
Secara Islami, anak-anak wajib dibina fitrahnya agar menjadi Muslim yang shalih. Maka ketika anak umur 7 tahun, orang tuanya disuruh oleh Nabi ` untuk memerintah anak-anaknya shalat. Nabi ` bersabda: "Perintahkanlah anak itu (mendirikan) shalat ketika ia telah sampai (umur) tujuh tahun. Dan jika telah sampai sepuluh tahun maka pukullah dia" (kalau meninggalkan shalat dengan sengaja). (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim, shahih atas syarat Muslim).
Dalam Hadits lain Rasulullah ` bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat sedang mereka (berumur) tujuh tahun, dan pukullah mereka (kalau meninggalkan shalat dengan sengaja) ketika (berumur) sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka tempat tidurnya" (pada umur 10 tahun itu). (Hadits Shahih Riwayat Ahmad (2/187) dan Abu Daud (495).
Al-'Alqami dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi (2/445) dalam syarah Al-Jami'ush Shaghir berkata: "Hen-daklah (orang tua/ wali) mengajarkan mereka (anak-anak) hal-hal yang diperlukan mengenai shalat, di antaranya tentang syarat-syarat dan rukun shalat. Dan memerintahkan mereka untuk mengerjakan shalat setelah belajar." Dia katakan juga bahwa: "Diperintah-kannya memukul itu hanyalah terhadap yang telah berumur sepuluh tahun karena saat itu ia telah mampu menahan derita pukulan pada umumnya. Dan yang dimaksud dengan memukul itu pukulan yang tidak mem-bahayakan, dan hendaknya menghindari wajah dalam memukul."
Ada juga beberapa pendapat bahwa yang dimaksud memukul dalam arti yang sebenarnya, namun kiasan untuk memberikan penekanan tentang wajibnya shalat. Seperti diancam tidak diberi uang saku jika tidak shalat, atau banyak lagi cara yang bisa digunakan untuk menjadikan anak mengerjakan sholat. Mungkin sobat STW lebih pengalaman...
Salam mudah-mudahan manfaat..
Artikel menarik yang lain silahkan anda baca :
- Vaksin berbahayakah?
- Mandul dan kesuburan
- Pengguna narkoba indnesia mencapai 5 juta orang
- Kesehatan reproduksi remaja
- Jangan jadi budak FB
- Miliki payudara indah kencang dan padat
- Kampanye tutup aurat
- Pendidikan dan pergaulan remaja
PENTING JUGA YANG INI
Langganan:
Postingan (Atom)