Tampilkan postingan dengan label Pendidikan moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan moral. Tampilkan semua postingan
Peranan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Natural crystal x - Anak adalah karunia-Nya yang terlahir fitrah. Kitalah yang akan
menjadikannya Muslim, Yahudi atau Nasrani. Kita pulalah yang
membentuknya menjadi apa kelak, melalui pendidikan.
Peranan orang tua dalam mendidik anak
Adalah Mu’awiyah marah kepada anaknya Yazid, lalu mengasingkannya. Ahnaf penasihatnya berkata, ”Ya Amirul Mukminin, anak-anak kita adalah buah hati dan tulang punggung kita. Kita ini bagaikan langit yang teduh bagi mereka dan bagaikan bumi yang rata. Dengan keberadaan mereka, kita dapat memperoleh kejayaan.
Kalau mereka marah, hiburlah dengan sabar. Kalau mereka meminta, berilah. Jika tidak meminta sesuatu, tawarilah. Jangan engkau perlakukan mereka dengan kasar dan kejam, sehingga mereka tidak betah bersanding denganmu, bahkan mendo’akan kematianmu.”
Sejak mendengar nasihat bijak itu, Mu’awiyah memperbaiki sikapnya terhadap anak-anaknya.
Maka salah satu solusi paling tepat, untuk menghindari kekerasan pada anak adalah memperkuat fungsi keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai pengasuh dan pengelola keluarga. Dan sebagai orangtua, sepantasnya kita memenuhi hak-hak anak.
Orangtua, selain memberikan makanan bergizi untuk pertumbuhan kecerdasan dan fisik anak, juga memenuhi kebutuhan non fisik anak. Berupa kasih sayang, perhatian, pendidikan dan pembinanan yang bersifat religius secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari.
Pada suatu kesempatan, para sahabat Rasulullah mengajukan pertanyaan,
”Ya Rasulullah, kami telah mengetahui hak orangtua, kemudian apakah hak
kami padanya?” Jawab Rasulullah, ”Hendaklah orangtua memberikan nama
yang bagus dan mendidik dengan baik,”(Riwayat Baihaqi).
Pada riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Tidak ada pemberian orangtua
yang paling berharga kepada anaknya dari pada pendidikan akhlak
mulia,”(Riwayat Bukhari).
Keluarga Kokoh
Islam begitu memperhatikan institusi keluarga. Keluarga yang kokoh
mampu membentengi seluruh anggota keluarga dari semua hal yang bisa
membahayakan anggotanya, fisik maupun psikis. Baik yang datangnya dari
luar maupun dalam keluarga itu.
Rasulullah banyak mencontohkan bagaimana hidup berkeluarga yang baik.
Rasulullah adalah pribadi yang penyayang, apalagi terhadap anak-anak.
Banyak riwayat yang melukiskan betapa sayangnya beliau terhadap
anak-anak.
Selain pendidikan dan pengasuhan, keutuhan keluargapun sangat
berpengaruh terhadap anak-anak. Sehingga Allah menegaskan, perbuatan
halal yang dibenci Allah adalah perceraian.
Karena itu, jika terjadi sesuatu maka fungsi keluarga perlu
diperkuat sehingga keluarga kembali menjadi kokoh. Generasi yang
terlahir dari keluarga-keluarga seperti ini, menjadi generasi yang kuat
dan mempunyai militansi yang tinggi.
Mengingat begitu esensinya keluarga dalam mengubah peradaban, maka
musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga membuat keluarga-keluarga
Muslim hancur, keluar dari agamanya.
Dengan bersembunyi di belakang para feminis dan aktivis kesetaraan
gender, mereka berusaha menggolkan berbagai UU yang mendukung kebebasan
perempuan dan anak. Tentunya dengan tujuan meliberalkan keluarga dan
menjauhkan dari tuntunan syariat Islam.
Contohnya, aktivis perempuan yang mengajukan Counter Legal Draft
Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI). Di dalam draf tersebut, disebutkan
bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya
sendiri, poligmi haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak,
ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya
sendiri.
Yang memprihatinkan, draf itu justru keluar dari Departemen Agama.
Tapi alhamdulillah, Menteri Agama Maftuh Basyuni membatalkan langsung
CLD-KHI dan melarang penyebarluasannya pada masyarakat.
Bagaimana jadinya kalau anak di suruh memilih agamanya sendiri,
sedang Islam secara tegas memerintahkan agar kita mencegah diri, anak
dan istri dari api neraka. Karena itu, sebagai orangtua kita harus
selalu menjaga amanah yang telah dititipkan Allah SWT pada kita.
Bukankah di yaumil akhir nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban
tentang anak-anak yang berada dalam naungan kita? sumber
Artikel lain yang bermanfaat silahkan dibaca :
- Prostitusi via FB
- Awas, pornografi anak bertebaran di fb
- Pergaulan anak remaja
- Warnet harus punya filter untuk blokir situs porno
- Pendidikan dan pergaulan remaja
- Dampak dan peran orang tua dalam pendidikan
Artikel lain yang bermanfaat silahkan dibaca :
- Prostitusi via FB
- Awas, pornografi anak bertebaran di fb
- Pergaulan anak remaja
- Warnet harus punya filter untuk blokir situs porno
- Pendidikan dan pergaulan remaja
- Dampak dan peran orang tua dalam pendidikan
Antrian Kematian
Mari bersama persiapkan yang terbaik buat diri kita masing-masing, karena siapaun yang bernyawa sebenarnya berada dalam antrian kematian.
Belakangan, berita kecelakaan di jalan raya kerap menghiasi tayangan di televisi, juga menjadi sorotan berbagai media massa lainnya. Kecelakaan bus di jalur puncak Cisarua Bogor, tabrakan bus di Jawa Timur, juga di Pemalang hingga kecelakaan tunggal yang menewaskan sembilan orang pejalan kaki yang terjadi tak jauh dari halte Tugu Tani, Jakarta. Selain berita-berita tersebut, sebenarnya mungkin masih banyak kecelakaan lain yang tak terekspose media.
Kejadian ini semestinya menjadi pengingat kita semua bahwa terlepas dari soal takdir, kehati-hatian dalam berkendara di jalan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Selain berdoa sebelum bepergian, patuh pada peraturan lalu lintas adalah kewajiban. Juga yang tak boleh diabaikan adalah saling menghormati sesama pengguna jalan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk hati-hati, jangan hanya bisa marah dan membentak “memangnya ini jalan nenek moyangmu!” tapi dirinya sendiri juga tidak berhati-hati, terlupa bahwa jalan yang dilewati juga bukan milik kakek moyangnya. Jika kita menuntut orang lain hati-hati dan disiplin berlalu lintas, maka kewajiban yang sama juga mengikat kita.
Dibalik musibah selalu ada hikmah. Begitupun kecelakaan di jalan raya yang belakangan ini sering terjadi juga memberi kita sebuah pelajaran, menggugah kesadaran bahwa maut bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara yang tidak terduga, termasuk kecelakaan di jalan raya.
Sebelum tragedi halte Tugu Tani itu terjadi, siapa yang menyangka jika kedatangan satu keluarga dari desa ke Jakarta dalam rangka liburan justru seperti mengantarkan nyawa. Dan mereka yang usai berolah raga, tak ada yang menduga kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban, tertabrak mobil yang nyelonong ke trotoar.
Juga mereka, para penumpang bus maut baik yang di Jawa Timur, Pemalang, Bogor maupun daerah-daerah lainnya tak mengira kepergian mereka dengan berbagai kepentingan akan berakhir di pemakaman. Inilah ketetapan, kepastian yang Allah rahasiakan. Dan disadari atau tidak, kita pun sebenarnya berada dalam antrian.
Entah di urutan keberapa, entah setelah siapa, yang pasti suatu saat nanti akan tiba giliran kita juga.
Jangan karena masih muda, sehat, kaya dan sedang berjaya lalu merasa antrian kita masih jauh. Masih banyak mereka yang sudah tua, atau masih muda tapi sakit-sakitan, antri di depan kita. Jangan pernah beranggapan demikian. Banyak fakta menunjukan, seorang yang sudah lanjut usia, terisak pelan menghadiri pemakaman cucunya yang masih belia. Juga mereka yang beberapa hari sebelumnya masih terbaring di rumah sakit, turut menjadi saksi pemakaman orang yang kemarin membezuknya.
Jangan katakan ini menyeramkan, karena memang kenyataan. Kita dalam antrian. Jangan pula bilang takut, karena rasa takut tak akan membatalkan maut. Siap atau tidak, bila sampai waktunya, maut tetap akan datang menjemput. Usia bukan jaminan, harta, jabatan dan kesehatan bukan andalan. Kesemuanya bukan penentu urutan kita dalam antrian. Tapi selama dalam antrian, semua bisa kita gunakan untuk mengumpulkan perbekalan yang kita butuhkan di kehidupan abadi kelak.
Karena kita tidak tahu di mana sebenarnya posisi kita dalam antrian, maka perbekalan iman dan amal kebaikan harus benar-benar dipersiapkan. Jangan salah membawa bekal, jangan pula sampai tertinggal. Apa yang akan kita dapatkan kelak adalah sesuai dengan apa yang kita upayakan sekarang. Mari sama-sama memastikan bahwa selama antri tidak sekalipun kita keluar dari jalur yang ditetapkan. Insya Allah.
www.abisabila.com
Belakangan, berita kecelakaan di jalan raya kerap menghiasi tayangan di televisi, juga menjadi sorotan berbagai media massa lainnya. Kecelakaan bus di jalur puncak Cisarua Bogor, tabrakan bus di Jawa Timur, juga di Pemalang hingga kecelakaan tunggal yang menewaskan sembilan orang pejalan kaki yang terjadi tak jauh dari halte Tugu Tani, Jakarta. Selain berita-berita tersebut, sebenarnya mungkin masih banyak kecelakaan lain yang tak terekspose media.
Kejadian ini semestinya menjadi pengingat kita semua bahwa terlepas dari soal takdir, kehati-hatian dalam berkendara di jalan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Selain berdoa sebelum bepergian, patuh pada peraturan lalu lintas adalah kewajiban. Juga yang tak boleh diabaikan adalah saling menghormati sesama pengguna jalan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk hati-hati, jangan hanya bisa marah dan membentak “memangnya ini jalan nenek moyangmu!” tapi dirinya sendiri juga tidak berhati-hati, terlupa bahwa jalan yang dilewati juga bukan milik kakek moyangnya. Jika kita menuntut orang lain hati-hati dan disiplin berlalu lintas, maka kewajiban yang sama juga mengikat kita.
Dibalik musibah selalu ada hikmah. Begitupun kecelakaan di jalan raya yang belakangan ini sering terjadi juga memberi kita sebuah pelajaran, menggugah kesadaran bahwa maut bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara yang tidak terduga, termasuk kecelakaan di jalan raya.
Sebelum tragedi halte Tugu Tani itu terjadi, siapa yang menyangka jika kedatangan satu keluarga dari desa ke Jakarta dalam rangka liburan justru seperti mengantarkan nyawa. Dan mereka yang usai berolah raga, tak ada yang menduga kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban, tertabrak mobil yang nyelonong ke trotoar.
Juga mereka, para penumpang bus maut baik yang di Jawa Timur, Pemalang, Bogor maupun daerah-daerah lainnya tak mengira kepergian mereka dengan berbagai kepentingan akan berakhir di pemakaman. Inilah ketetapan, kepastian yang Allah rahasiakan. Dan disadari atau tidak, kita pun sebenarnya berada dalam antrian.
Entah di urutan keberapa, entah setelah siapa, yang pasti suatu saat nanti akan tiba giliran kita juga.
Jangan karena masih muda, sehat, kaya dan sedang berjaya lalu merasa antrian kita masih jauh. Masih banyak mereka yang sudah tua, atau masih muda tapi sakit-sakitan, antri di depan kita. Jangan pernah beranggapan demikian. Banyak fakta menunjukan, seorang yang sudah lanjut usia, terisak pelan menghadiri pemakaman cucunya yang masih belia. Juga mereka yang beberapa hari sebelumnya masih terbaring di rumah sakit, turut menjadi saksi pemakaman orang yang kemarin membezuknya.
Jangan katakan ini menyeramkan, karena memang kenyataan. Kita dalam antrian. Jangan pula bilang takut, karena rasa takut tak akan membatalkan maut. Siap atau tidak, bila sampai waktunya, maut tetap akan datang menjemput. Usia bukan jaminan, harta, jabatan dan kesehatan bukan andalan. Kesemuanya bukan penentu urutan kita dalam antrian. Tapi selama dalam antrian, semua bisa kita gunakan untuk mengumpulkan perbekalan yang kita butuhkan di kehidupan abadi kelak.
Karena kita tidak tahu di mana sebenarnya posisi kita dalam antrian, maka perbekalan iman dan amal kebaikan harus benar-benar dipersiapkan. Jangan salah membawa bekal, jangan pula sampai tertinggal. Apa yang akan kita dapatkan kelak adalah sesuai dengan apa yang kita upayakan sekarang. Mari sama-sama memastikan bahwa selama antri tidak sekalipun kita keluar dari jalur yang ditetapkan. Insya Allah.
www.abisabila.com
Pendidikan dan pergaulan remaja

Natural crystal x -Sobat, berikut ini adalah tulisan mengenai pendidikan dan pergaulan remaja masa kini yang sangat memperihatinkan, disamping itu perkembangan iltek juga tidak kalah penting dalam merusak moral remaja. Salah satu contoh tidak jarang kita dapati dalam status facebook yang meminta perhatian dari lawan jenis. Baik dari laki-laki maupun perempuan, baik yang masih sekolah maupun pasangan yang sudah berkeluarga. Status yang mereka tulis begitu menantang, sehingga tidak jarang mengundang komentar bagi seseorang yang punya pemikiran serupa...
Kitapun kadang tidak sadar dengan apa yang kita lakukan. Seolah menyampaikan isi hati, jatuhnya malah menyakiti tambatan hati sang istri. Tidak jarang pula menjadi semacam daging yang berduri...pasnya sih duri dalam daging...:)
Itulah dampak dari perkembangan IPTEK, yang telah merasuk jauh kedalam hati manusia. Ya, hati manusia yang kurang terkondisikan dengan pemikiran yang jernih...atau mungkin sedang keruh...:)
Memang, tidak ada manusia yang sempurna dengan perilaku kehidupanya. Terkadang lalai, lupa dan salah. Pada kondisi yang demikian itu, manusia terjerembab pada nilai-nilai yang merendahkan dirinya. Bahkan bisa lebih hina dari binatang ternak.
Untuk itu, penting sekali kita bekali pendidikan moral dan akhlak yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan pada manusia. Nilai moral dan akhlak sudah semestinya diterima anak pada usia sebelum remaja. Agar dimasa remaja, minimal sang anak punya basic atau dasar yang bisa menjadi acuan dalam pergaulan.
Diantara peran yang berpengaruh dalam pendidikan ini antara lain :
1. Peran orang tua / keluarga. Tangga pertama pijakan anak terletak pada keluarga. Baik yang menyangkut adab pergaulan maupun tingkah laku. Kenapa? Karena masih terngiang dalam ingatan saya sampai saat ini adalah pesan/nasehat dari ibu. Pesan yang cukup singkat padat jelas, bahkan diulang-ulang sampai tidak bisa saya hitung. Sehingga, saya hafal betul kalimat itu, "Nak, kamu belajar yang rajin, tidak boleh nakal, kalo jajan temenya dibagi...!". Inilah kalimat dari orang tua saya yang seolah terpatri kuat dalam otak. InsyaAlloh akan kami tanamkan pula pada anak kami, dengan tambahan beberapa nasehat.
2. Peran sekolah atau pendidikan diluar keluarga. Selama ini pendidikan disekolah-sekolah tidak memberi efek yang baik bagi moral dan akhlak remaja. Boleh saja mereka pandai dalam ilmu dan pelajaran sekolah. Namun semua itu ibarat sampah yang tidak berarti jika moral dan akhlak yang buruk mewarnai perilakunya. Fakta yang terjadi adalah betapa banyak para pejabat yang pandai korupsi, pandai ngoceh, pandai beretorika...dan kepandaian lain yang bukan lagi rahasia. Merekalah hasil pendidikan yang terjadi pada negeri ini.
3. Peran pemerintah sebagai penanggung jawab kemajuan negara. Huft, sekarat..! Itulah yang mungkin saya katakan. Pemerintah sebagai filter dari kebudayaan barat harusnya bisa mengolah dan memilah informasi. Jangan hanya karena masalah sogokan dan prospek pendapatan besar, pemerintah justru mengorbankan masyarakat. Biasanya tersebar melalui media-media, baik cetak maupun elektronik.
Bicara pemerintahan, lihatlah bagaimana jepang dengan kemajuan pesat setelah 2 bom atom jatuh dinegaranya. Siang malam rakyatnya harus ikut kerja lembur tanpa upah untuk negara. Akhirnya sampai saat ini budaya itu masih melekat dikantor-kantor pemerintah Jepang. Bahkan jadi satu hal yang aneh jika pegawai disana pulang tepat waktu. Artinya, jam kerja mereka sudah biasa melebihi aturan (padahal tidak dihitung lembur)
Akhirnya, pondasi utama yang mesti dijaga adalah pendidikan dalam keluarga. Dimana ada komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua. Bahkan dalam sebuah pengalaman seseorang yang berhasil dalam pendidikan anaknya, dia menuturkan 3 tahapan :
a. Usia anak antara 0-7 tahun, perlakukan seperti raja.
b. Usia anak antara 7-14 tahun, perlakukan seperti tahanan.
c. Usia anak antara 14-21, perlakukan sebagai sahabat. Dan untuk selanjutnya, dia bisa berfikir sendiri dengan jalanya. Setelah dalam "masa tahanan" tersebut kita gembleng dengan tempaan yang berkualitas.
Semoga hadirnya tulisan ini dapat menambah wawasan bagi pembaca sekalian. Dan kami mohon maaf jika ada kekurangan disana-sini. Sebagai manusia kami tentunya tidak terlepas dari kesalahan atau kekeliruan. Oleh karena itu kami mengharap kritik dan masukan dari pembaca sekalian untuk lebih menyempurnakan tulisan ini...
Ditulis kembali oleh http://naturalcrystalx-wanitacantik.blogspot.com/
Artikel Lain :
1. Pergaulan bebas
2. Jangan Dekati Zina
3. Antisipasi tumbuhnya GeneraSI tak Sholat
Berbagai masalah anda silahkan klik gambar :


Langganan:
Postingan (Atom)