Kisah Cinta Bintang kepada Sang Bulan
KENAPA bulan dan matahari tak dapat bertemu?
Sedangkan BULAN dan BINTANG adalah sahabat sejati???
Suatu hari pernah Bulan mendengar sebuah bintang berbicara pada bulan
“Aku tidak ingin lagi menemanimu mulai malam ini dan seterusnya”
katanya.
“Kenapa?” tanya bulan
“Padahal aku menyukaimu, aku menyukai malam-malam dimana kau ada dan menemani ku hingga fajar menjelang”
Tetapi bintang itu hanya diam meredup dan bersembunyi di balik mega.
Justeru karena bulan menyukainya maka bintang itu menghilang.
Cinta memang aneh, bukankah ia seharusnya mempersatukan?
Bintang itu mencintai bulan.
Tetapi bulan tidak mencintainya, ia hanya ‘ menyukainya’.
Siapakah yang membeda-beda kan cinta dengan suka?
Kenapa bulan tidak membencinya saja, malah bulan menyukainya sehingga
bintang tidak mempunyai alasan untuk tidak menemaninya malam nanti.
Bukankah bintang seperti api panas,berkobar dan memberikan sinar?
Namun Bintang yang mencintai sang Bulan ini hanyalah sebuah bintang kecil yang berwarna merah.
Karena itu ia tak pernah dapat mengumpulkan keberanian untuk berkata pada bulan
“ Aku mencintaimu!”.
Bulan sendiri tidak pernah menganggap bintang sebagai lebih dari
sahabat yang selalu menemaninya setiap malam, dan sesungguhnya bintang
mengetahuinya.
“Aku mencintai matahari” kata bulan
”Ia dapat membuatku bersinar indah diwaktu malam.
Ia membuatku selalu ditunggu oleh para pencinta malam. Ia membuatku
selalu dinanti oleh para pujangga yang yang menulis berbait-bait puisi
tentang cinta hanya dengan melihat diriku di langit malam.
Bintang tak pernah habis berfikir kenapa bulan mencintai matahari, bulan
bahkan hampir tak pernah bertemu dengan matahari dan ketika mereka
bertemupun bulan akan kehilangan sinarnya.
Kita menyebutnya gerhana matahari,
Matahari tidak pernah memikirkan bulan, ia hanya bersinar dan memberikan sinarnya tanpa membeda-bedakan.
Ia bahkan tidak mengetahui kalau sinarnya dimanfaatkan oleh bulan untuk bersinar dimalam hari.
Ia hanya menganggap bulan sebagai benda yang kadang-kadang menghalanginya memberi sinar kepada bumi.
Atau Mungkinkah matahari mencintai bumi,??
Misteri
Bintang merasa tidak mendapatkan keadilan.
Kenapa bulan mencintai matahari yang bahkan tidak pernah memikirkan
bulan, dan bukan mencintai bintang yang mencintai bulan dengan sepenuh
hatinya?
Bintang juga merasa tak berdaya karena walaupun ia
ingin memberikan seluruh sinarnya kepada bulan agar selalu kilau
kemilau, bintang tak dapat melakukannya karena jaraknya yang sangat
jauh.
Matahari juga adalah bintang, bintang merah yang sama
seperti dirinya, karena letak nyalah matahari dapat terlihat lebih
terang daripada bintang.
Tapi bintang adalah bukan matahari, karena itu bulan tidak mencintai bintang.
Cinta memang aneh. Karena itu sekali lagi bintang berkata, kali ini kepada semua teman- temannya
“Aku tidak ingin lagi menemani bulan mulai malam ini”
kemudian ia menghilang (tak hanya meredup danbersembunyi di balik mega) dan tak pernah lagi menemani bulan.
Ku beritahu sebuah rahasia, sekarang Bintang itu turun ke bumi sebagai
Bintang jatuh memberi harapan bagi permintaan sepasang kekasih agar
mereka berdua dapat hidup berbahagia hingga akhir hayatnya.
Walaupun dia tak mendapatkan cinta sang Bulan,ia dapat menjadi berarti bagi sepasang kekasih menjadikan kisah mereka indah.
Semoga bermanfaat, anda juga bisa membaca artikel yang lain seperti Jomblo atau pergaulan remaja
Tampilkan postingan dengan label Surat cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat cinta. Tampilkan semua postingan
Surat Cinta untuk Istriku

Surat Cinta untuk Istriku - Zaujati jamiilah...
Ditemani nyanyian serangga malam, ditemani senandung binatang malam yang sedang bertasbih dan bertakbir mengagungkan asma-Nya, kutulis sepucuk surat cinta ini. Surat cinta untuk pelepas rindu yang tiada tara.
Kutulis surat cinta ini manakala telah kutunaikan sembahyang kerinduan pada-Nya... kerinduan seorang hamba yang menanti belas kasihan dan bimbingan dari Sang Pencipta. Kerinduan ini tak terbendung.. kerinduan ini membuncah... untuk bisa bertemu dengan Sang Pencipta tatkala masanya tiba.
Istriku.... atas nama Alloh, Sang Pencipta Cinta
Kurindukan dirimu, bagaikan bumi merindukan sinar mentari, bagaikan sahara merindukan hujan. Engkaulah pelita hatiku... tambatan jiwaku. Kurindukan candamu, kurindukan kecup sayangmu dan kurindukan berkah kehangatanmu. Kurindukan pula buah hati kita, seperti rindunya gurun pasir menanti setetes embun.
Istriku...
32 tahun yang lalu, seorang bayi laki-laki lahir , betapa girang ibu bapaknya. Dipanjatkannya rasa syukur yang tulus dan mendalam dan hanya untaian doa kepada sang Maha Pencipta, semoga buah hatinya kelak menjadi tentara-Nya.
Waktupun berlari, tanpa menghiraukan suara dan teriakan orang yang ingin mennghentikannya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahunpun berganti tahun, anak itupun sekarang sudah dewasa dan telah membina keluarga, dengan segala kekurangan dan kesederhanaannya. Keluarga yang bahagia-insyaAlloh- dimana dulunya keluarga itu dibentuk semata karena ingin melaksanakan sunnah Rosul-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dan mencari ridho-Nya.
Tahukah istriku...
Bayi laki-laki itu sekarang ini menjadi suamimu, menjadi pendamping hidupmu, Abi dari anak-anakmu.
Masih ingatkah engkau istriku... tatkala ikrar itu kuucapkan, tatkala lantunan surat-Arrohman ku-kumandangkan, saat para malaikat menjadi saksi suci pernikahan kita ....kurang lebih delapan tahun yang lalu. Kuharap, kau ingat saat kita berpacaran setelah menikah waktu itu, bahkan kau sangat malu pada seekor semut tatkala melihat kita berduaan.
Delapan tahun ternyata waktu yang sangat singkat,.... tak terasa memang... sudah 3 buah hati yang diamanahkan Alloh kepada kita.
Istriku sayang, aku sadar...
Aku bukanlah malaikat, bukan nabi, bukan pula manusia yang sempurna... yang selalu benar dan tanpa cela. Aku adalah manusia biasa, dimana kesalahan dan kekurangan selalu ada padanya,..
Istriku... tolong ingatkan suamimu ini, untuk selalu berada di jalan yang di ridhoi-Nya.
Mari kita ikhlaskan kesalahan dan bergandengan tangan, meniti kehidupan yang sebentar ini. Doakan pula suamimu ini dalam sujud panjangmu, untuk bisa menjadi qowam yang baik, untuk memimpin engkau dan untuk mendidik buah hati kita menuju ridho-Nya.
Istriku, aku bukanlah pujangga, yang pandai merangkai kata... hanya surat inilah yang bisa mengobati rinduku padamu dan buah hati kita. Terasa benar, surat ini tidak bisa menggambarkan betapa besarnya cinta dan kerinduanku padamu. Semoga Alloh titipkan secuil rindu ini pada anak-anak dan ummi.
02:47, 08 October 2011
Bumi Alloh-Auckland
Artikel lain : Antara Cinta Dan Suka : Hukum Pacaran
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)