Tampilkan postingan dengan label Tim Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tim Kerja. Tampilkan semua postingan

Rejeki yang Halal Berkah dan Barokah

Natural crystal x - Memang untuk mencari rejeki yang halal berkah dan barokah tidaklah mudah. Semua ada nilai dan konsekuensi yang harus dilalui setiap orang. Berbeda dengan artikel saya yang kemarin natural crystal x awas barang palsu, untuk postingan kali ini mungkin bisa bermanfaat bagi anda dari berbagai kisah yang menarik mengenai rejeki yang halal berkah dan barokah tersebut.

SYU’AIB bin Harb – seorang atba’ tabi’in yunior – berkata, “Jangan menyepelekan uang receh (fulus) yang engkau dapatkan melalui suatu cara di mana engkau menaati Allah Subhanahu Wata'ala di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (Dari: al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Demikianlah, sebuah perkerjaan tidaklah dinilai dari besar kecilnya gaji yang diperoleh, akan tetapi dari cara kita melakukannya. Pertanyaan mendasar yang harus dicamkan adalah, “Apakah Allah ridha dengan pekerjaanku ini?”

Inilah cara berpikir seorang Muslim, sebagaimana diajarkan Nabinya; bukan menuruti logika materialis-atheis yang hanya mengedepankan pragmatisme. Cara berpikir pragmatis tak bertuhan inilah yang membuat sebagian orang dengan berani menyebut perzinaan sebagai “pekerjaan”, seolah-olah hendak menyamakannya dengan guru, petani, pedagang, advokat atau birokrat. Bukankah sebagian besar kita telah terbiasa melafalkan PSK (Pekerja Seks Komersial), dan bukannya pelacur atau pezina? Astaghfirullah.

Bekerja mendapatkan rezeki yang halal adalah kebajikan, apapun bentuk dan derajatnya di mata manusia. Bahkan, Rasulullah menjadikannya sebagai salah satu kewajiban bagi umatnya. Beliau bersabda, “Mencari yang halal adalah kewajiban setiap Muslim.” (Riwayat Thabrani dalam al-Awsath, dari Anas bin Malik. Menurut al-Haitsami: isnad-nya hasan).

Itu artinya, pekerjaan yang halal bisa bermakna ibadah. Setiap tetes keringat akan dihargai dengan pahala berlipat ganda. Apapun yang dihasilkannya menjadi berkah, dan semakin menguatkan tali perhubungan dengan Sang Pencipta. Rasulullah bersabda, “Sungguh, tidaklah engkau memberikan nafkah yang dengan itu engkau mengharapkan wajah Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala, bahkan terhadap (sesuap makanan) yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash).

Pekerjaan kasar yang mengandalkan otot sama mulianya dengan pekerjaan intelektual, asalkan halal. Dan, tentu saja bekerja jauh lebih baik dibanding mengemis, bagaimana pun caranya.

Anas bin Malik bercerita, bahwa seseorang dari kaum Anshar datang kepada Nabi untuk meminta-minta. Beliau pun bertanya, "Tidak adakah sesuatu apa pun di rumahmu?" Ia menjawab, “Ya, ada. Kain alas pelana yang sebagian kami buat pakaian dan sebagian lagi kami hamparkan (untuk tikar), serta gelas besar yang kami gunakan untuk minum.” Beliau bersabda, "Bawalah keduanya kepadaku." Ia kemudian membawanya. Beliau mengambilnya dengan tangan beliau dan berkata, "Siapa yang mau membeli kedua barang ini?" Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan satu dirham.” Beliau berkata, "Siapa yang menambah lebih dari satu dirham?" Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, “Saya membelinya dengan dua dirham.” Kemudian beliau memberikannya kepada orang tersebut, dan mengambil uang dua dirham. Beliau memberikan uangnya kepada orang Anshar itu dan bersabda, "Belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan belilah (mata) kapak lalu bawalah kepadaku." Orang itu membawa (mata) kapaknya kepada Nabi, lalu mengikatkan sebatang kayu padanya dengan tangan beliau sendiri. Beliau bersabda, "Pergilah, kemudian carilah kayu dan juallah. Jangan sampai aku melihatmu selama lima belas hari." Orang itu pun pergi mencari kayu serta menjualnya, lalu datang lagi dan telah memperoleh uang sepuluh dirham. Sebagian ia belikan pakaian, sebagian lagi makanan. Kemudian Rasulullah bersabda, "Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta itu kelak berubah menjadi noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sungguh, meminta-minta itu tidak layak kecuali bagi tiga (jenis) orang, yaitu: orang fakir yang sangat melarat, atau orang yang terbebani hutang sangat berat, atau orang yang menanggung diyat (biaya tebusan atas pembunuhan) sementara ia tidak mampu membayarnya." (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Sanad-nya dha’if).

Sebaliknya, pekerjaan yang terkesan mentereng dan bergaji besar, sangat boleh jadi hanya akan menjadi beban dosa dan kehinaan jika tidak diridhai Allah. Dari waktu ke waktu hanya akan memicu kegersangan, kekacauan, dan berakhir sebagai siksa tak terperikan. Semakin digeluti semakin menggelisahkan, sebab dosa-dosanya semakin menumpuk. Dalam Tafsir Zaadul Masir dikatakan bahwa pekerjaan yang haram adalah bagian dari siksa Allah, yaitu “kehidupan yang sempit” sebagai akibat dari kelalaian, keberpalingan dan meninggalkan tuntunan Allah. Sebagaimana firman-Nya

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيراً
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya bisa melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan." (QS. Thaha: 124-126).

Dengan kata lain, menurut Islam, kehidupan yang lapang – pertama-tama – bukan diukur dari lapangnya materi, namun dari aspek keselarasan kehidupan itu dengan tuntunan Allah. Baru setelahnya, aspek-aspek lain mengikuti. Entah melarat atau kaya-raya, jika kehidupan seseorang tidak sejalan syari’at, maka layak disebut sebagai “kehidupan yang sempit”.

Sama juga, apakah fakir atau serba berkecukupan, kehidupan yang mengikuti aturan Allah adalah “kehidupan yang lapang” itulah yang namanya "rejeki yang halal berkah dan barokah". Wallahu a’lam

Artikel yang lain :
- Natural Crystal X, produk kesehatan alami

Cerita Dari Gunung

Seorang anak mengisi waktu liburan dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Lereng dan tebing telah ia lalui dengan penuh semangat dan tanpa kenal lelah. Karena mulai letih, tiba-tiba si anak tersandung akar pohon dan jatuh. "Aduhh!" jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Belum hilang kaget sang anak, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya yang persis sama, "Aduhh!".
Dasar anak-anak, "Hei! Siapa kau?" sahutnya penasaran. Tak lama kemudian terdengar jawaban, "Hei! Siapa kau?" yang juga sama persis. Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!". Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?".

Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berteriak keras, "Saya kagum padamu!". Suara di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!". Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!". Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!".
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN."
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakan kita. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas perilaku kita. Bila kita ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hati kita. Jika kita ingin dihargai dan dihormati orang lain, maka hargai dan hormatilah orang lain.

Mustahil kita mendapatkan tim kerja yang memiliki kemampuan tinggi, jika kita enggan meningkatkan kemampuan kita. Sulit rasanya kita akan meraih kedudukan dan jabatan tinggi jika kita tak pernah membuktikan prestasi dan karya kita. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kita berikan kepadanya. Bahkan terkadang apa yang hidup kembalikan kepada kita jauh lebih dahsyat dari apa yang kita berikan. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan diri kita.
Itulah sebabnya seorang Soichiro Honda meski kegagalan bertubi-tubi menghadang dirinya, namun semangat juara selalu ia gaungkan dalam jiwanya laksana genderang kesuksesan yang bertalu-talu memanggil dan memenuhi sanubarinya, hingga dunia kemudian membalas dan mengabadikan dirinya sebagai sang pemenang.
"Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Bagaimana dengan Anda? (Agung Hermawan)
internal astra.